ASEAN Fisheries Education Network

“In order to strengthen and promote collaboration in education, research, information exchange as well as staff and student exchange in aquaculture

“In order to strengthen and promote collaboration in education, research, information exchange as well as staff and student exchange in aquaculture and fisheries among ASEAN countries and with other international institutions and organizations for sustainable development of aquaculture and fisheries in the region, nine Universities including Can Tho University (Vietnam), Kasetsart University (Thai

land), Nong Lam University (Viet Nam), Prince of Songkla University (Thailand), Rajamangala University of Technology Srivijaya (Thailand), Universitas Airlangga (Indonesia), Universitas Brawijaya (Indonesia), Universiti Malaysia Terengganu (Malaysia), Universiti Sains Malaysia (Malaysia) has jointly established and made the Declaration of the ASEAN Fisheries Education Network (ASEAN-FEN) on 30 October 2014 during the International Fisheries Symposium – IFS2014, Surabaya, Indonesia.”


Asean-Fen

Thanks to IPB for inviting us to present ASEAN-FEN to Indonesian Fisheries & Aquaculture students this morning. Feel free to join…register at: http://ipb.link/resgist-webinar-asc

Strategi KKP Kejar Target Peningkatan Ekspor Udang 250% Hingga Tahun 2024

Krui

Dalam upaya pembenahan sistem penyediaan induk udang vaname unggul, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng dua ahli pemuliaan genetika bidang perikanan budidaya yaitu Profesor Alimuddin dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Doktor Asep Anang dari Universitas Padjadjaran (UNPAD).
“Saya datang ke sini untuk membahas, bagaimana kita bisa berkontribusi sebagai prime mover untuk menghasilkan induk udang vaname unggul. Jadi saya ajak Profesor Alimuddin dan Doktor Asep Anang,” tutur Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb. Haeru Rahayu dalam rilis tertulis yang diterima tabloidpamor.com, Selasa (2 November 2021).
“Kami ingin diskusi banyak terkait dengan teknisnya, bagaimana sebetulnya kita bisa menghasilkan induk udang yang unggul nantinya. Jadi kami juga nanti minta pandangan dua ahli pemuliaan genetika ini. Bagaimana dan apa yang harus kita lakukan,” tambahnya.
KKP ingin menjadikan BPIU2K Karangasem sebagai ujung tombak KKP dalam menyediakan induk udang vaname yang unggul dan berkualitas di Indonesia. “Mulai hari ini kita tunjukkan bahwa BPIU2K di Karangasem ini betul-betul bisa menjawab tantangan saat ini yang sedang kita usung yaitu dua program terobosan di perikanan budidaya,” ujar Tebe.
BPIU2K Karangasem telah memiliki fasilitas, diantaranya Nucleus Center sebagai tempat proses produksi benih udang vaname, kemudian Tambak Uji Performa untuk tempat proses uji multilokasi udang vaname, serta fasilitas Multiplication Center sebagai tempat pembesaran calon induk dan induk udang vaname.
“Di Balai Karangasem ini, ada dua pendekatan strategi yang sudah dilakukan yaitu seleksi famili dan seleksi individu. Nanti mohon tanggapan profesor karena teman-teman di balai sudah melaksanakan perekayasaan. Tolong kami diberikan saran supaya bisa konkret untuk dilaksanakan kedepannya,” sambung Tebe.
Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Victor Manoppo mengatakan bahwa BPIU2K Karangasem memiliki peluang sangat besar untuk penyediaan induk udang unggul. “Intinya bahwa balai-balai yang ada di bawah Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya ini menjadi kelengkapan dari pada Menteri Trenggono untuk mengembangkan yang menjadi sasaran beliau ke depan khususnya peningkatan produksi udang nasional,” ujarnya.
Asep Anang yang juga ahli genetis di Shrimp Improvement Systems (SIS) menyampaikan fasilitas yang dimiliki BPIU2K Karangasem sudah menyalin dari SIS yang ada Hawaii dan Florida Amerika Serikat.
lJadi saya sudah beberapa kali ke Balai Karangasem dan sudah bagus, cuma dulu perlu perbaikan water filter system nya saja. Jadi saya kira kalau dilihat dari fasilitas di kita itu betul-betul bagus. Mungkin kalau saya berpikir tinggal keseriusan saja,” tutur Asep.
“Apakah Pemerintah memang serius untuk bergerak di breeding udang ini yang dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari luar ataupun yang di dalam negeri,” sambungnya.

Asep menyarankan untuk perbaikan performa udang di Indonesia melalui traceability. Performa udang dilacak dari mulai induk sampai ke tambak. Performa hatchery bagaimana. Jadi kalau ada masalah bisa traceback (melacak kembali) ke galur murninya.
Saat dimintai tanggapannya, Alimuddin yang juga Dosen di Departemen Akuakultur IPB ini menyampaikan bahwa BPIU2K Karangasem mampu menjadi penyediaan induk udang vaname unggul. “Kalau kita fokus memproduksi induk harus serius, lihat lagi protokol pemuliaan yang sudah kita lakukan,” ujarnya.
Ia menekankan untuk pembagian tugas pada Unit Pelaksana Tugas (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang menangani produksi udang.
“Detailnya kita harus menghitung berapa persen kebutuhan induk pada saat kita ingin memproduksi 2 juta itu. Ini dibebankan ke siapa saja, misalnya Sumatera dari Balai Ujung Batee, kemudian Balai Takalar untuk wilayah timur, lalu Balai Jepara untuk bantu Jawa dan sekitarnya. Itu dibagi-bagi mungkin akan mengurangi beban Balai Karangasem,” tambahnya.
Sebagai informasi, BPIU2K Karangasem tercatat memiliki 42.578 calon induk, yaitu calon induk udang vaname sebanyak 12.578 ekor, dan calon induk vaname nusantara generasi ke-4 (VN-G4) sebanyak 30.000 ekor.

Kemudian, jumlah induk udang vaname sekitar 875 ekor induk, yang terdiri dari masing-masing untuk induk vaname (dari 4 sumber genetik) sebagai bahan pemuliaan induk galur murni tumbuh cepat sebanyak 400 ekor, induk vaname hasil impor dari Konabay sebagai sumber genetik untuk seleksi individu dan famili sebanyak 225 ekor. Serta, induk vaname nusantara (VN-G4) sebagai sumber daya genetik hasil seleksi famili sebanyak 250 ekor.
Sebelumnya, Menteri Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa KKP menargetkan tahun 2024 secara nasional produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton atau peningkatan nilai ekspor udang nasional sebesar 250% hingga tahun 2024. “Saya mengharapkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan bangsa,” ungkapnya

Sumber : https://www.tabloidpamor.com/index-2.php?view=news&strategi-kkp-kejar-target-peningkatan-ekspor-udang-250-hingga-tahun-2024&PMR=VDFSck0wMUJQVDA9&fbclid=IwAR1rfFnL3u3Pxaixv5HeZbp1RKuEdEoxtUMAzRVj7xqh6ZRDNueQZyfIxls

IPB University Dorong Krui Pesisir Barat Jadi Pusat Pengembangan Benih Lobster Legal



IPB University Dorong Krui



Krui

Institut Pertanian Bogor (IPB)

KRUI (Lampungpro.co):Institut Pertanian Bogor (IPB) University mendorong Kabupaten Pesisir Barat menjadi pusat pengembangan benih lobster (baby lobster/BL) yang mengacu pada aturan baru pemerintah yakni Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Perikanan Lobster. Salah satunya di Krui yang merupakan sentra produksi lobster Lampung.

“Krui menjadi pemasok lobster baik ukuran benih, baby lobster atau benih bening ukuran konsumsi dari hasil tangkapan nelayan dan menjadi pemasok utama benih lobster di Lampung,” kata Ketua Tim Program Kedaireka Agromaritim Lobster IPB University, Irzal Effendi, saat membuka focus group discussion (FGD) Program Kedaireka Pengembangan Lobster Aquaculture Estate Berbasis Agromartim 4.0 di Pekon Walur, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Kamis (21/10/2021).

FGD ini dalam rangka kegiatan merdeka belajar Kampus Merdeka dengan menggelar workshop dan temu pelaku perikanan lobster yang terdiri dari nelayan, pengumpul, pengepul, pembudidaya, tokoh masyarakat, dan perangkat pekon. Dari Tim Dosen IPB University tampil Irzal Effendi, Yani Hadiroseyani, Iis Diatin, Luky Adrianto, Zairion, asistem dosen, dan empat mahasiswa Departemen Budidaya Perairan dan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.

Pada kesempatan itu, Irzal berharap kegiatan ini bisa memperbesar peluang penyediaan benih yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu, dan tepat harga (4T) untuk pengembangan budidaya lobster di Lampung. Dia mencontohkan pengembangan budidaya lobster berbasis kawasan bersama (estate) PT Saibatin Perikanan Indonesia di Tanjung Putus, Kabupaten Pesawaran.

“Pengembangan di Tanjung Putus tersebut mencakup pemilihan lokasi, engineering wadah/karamba budidaya, pengelolaan benih, pakan, kualitas air, kesehatan lobster, sampling, pemanenan, dan penanganan pascapanen,” kata Irzal.

Pada workshop yang dibuka Kepala Pekon Wulur Yoyon Yufriza dan Sekretaris Pekon Robert Ardeno itu, pihaknya berharap kegiatan ini bisa berdampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan warga pekon. Menurut Luky, kawasan Krui dan Pesisir Barat memiliki kelimpahan benih lobster yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya. Sehingga, nelayan masih bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan benih tersebut.

“Ada dua pilihan bagi nelayan setelah menangkap BL yaitu menjual ke eksportir dengan harga mahal namun dengan perasaan ketakutan dan kekhawatiran karena dilarang. Atau menjual ke pembudidaya meski dengan harga lebih rendah namun dengan perasaan aman, berkelanjutan, dan turut mendukung program pemerintah mengembangan budidaya lobster sebagai komoditas unggulan Tanah Air,” kata Luky.

Di sisi lain, Yani Hadiroseyani menyampaikan bahwa BL yang 4T tersebut akan memudahkan perencanaan pengembangan industri budidaya lobster di provinsi ini. Sedangkan menurut Iis Diatin, untuk menjamin benih lobster yang 4T tersebut, perlu dibangun kelembagaan usaha yang saling menguntungkan termasuk kesepakatan harga BL pada rantai pasokan.

Di sisi lain, menurut Zairion, rantai pasok BL tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan makhluk ini di perairan laut Pesisir Bara. Menurut Zairion dapat diduga dengan mengkaji lobster berbagai ukuran yang tertangkap nelayan.

Zairion yang juga Anggota Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan (Komnasjikan) itu menyatakan bahwa pengelolaan perikanan lobster yang benar bisa menjamin ketersediaan benih bagi budidaya secara berkelanjutan. Pada FGD itu, umumnya peserta menyatakan Permen Kelautan dan Perikanan No. 17 Tahun 2021 ini menyebabkan berhentinya usaha penangkapan BL dan berdampak cukup signifikan pada perekonomian masyarakat.

Meski penangkapan lobster ukuran konsumsi ukuran di atas 150 atau 200 gram per ekor masih berlangsung, mereka berharap upaya IPB University mengembangkan budidaya lobster dengan menggunakan BL ini bisa menjadi alternatif baru saluran penjualan lobster secara legal. Pengembangan pendederan BL yang ditawarkan ternayata disambut baik oleh peserta FGD, dengan syarat adanya pelatihan, percontohan, dan pendampingan terlebih dahulu oleh IPB University.

Usaha pendederan BL bersama masyarakat ini diharapkan akan menjadi satu kesatuan dengan pengembangan sistem produksi usaha budidaya lobster PT Saibatin Perikanan Indonesia dengan pendekatan kawasan (estate) ini. Kehadiran IPB University di Krui ini dilanjutkan dengan menempatkan empat mahasiswa yakni Virta Rizki Hernanda, Nidwidyanthi, Putri Agil Lestari, dan Haifa Trimelianda Nabila, di bawah koordinasi Muhammad Ridwan, sebagai Asisten Dosen, selama sekitar satu bulan.



Mereka akan melakukan penelitian skripsi yang masing-masing mencakup pemetaan sosial masyarakat perikanan lobster, rantai pasok/nilai lobster, biologi dan reproduksi lobster, dan pendugaan stok lobster di lokasi kajian. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan diperoleh informasi ilmiah yang bisa dijadikan landasan dalan pengelolaan perikanan lobster yang berkelanjutan dan pengembangan benih yang 4T. “Usaha perikanan budidaya yang berbasis benih alam (fisheries-based aquaculture) sangat membutuhkan informasi tersebut,” kata Muhammad Ridwan. (***)

Sumber: https://lampungpro.co/post/36479/ipb-university-dorong-krui-pesisir-barat-jadi-pusat-pengembangan-benih-lobster-legal.


Produksi Ikan Melalui Metode Akuakultur Bisa Bermanfaat untuk Masyarakat




Belajar Rata Teks CSS



Produksi Ikan  Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/441920/produksi-ikan-melalui-metode-akuakultur-bisa-bermanfaat-untuk-masyarakat

PRODUKSI ikan melalui kegiatan akuakultur terus mengalami peningkatan yang signifikan. Produksi akuakultur nasional mencapai lebih dari 15 juta ton dengan nilai Rp180 triliun pada 2018 dan menempatkan Indonesia sebagai produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia. Hal itu disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Prof Dr Alimuddin S.Pi. dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Rekayasa Genetika Ikan Dalam Rangka Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya. Alimuddin menjelaskan potensi produksi akuakultur ini harus dikelola dengan baik agar bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Berbagai hal seperti kualitas air, sistem budidaya, hingga pakan berperan dalam menopang produktivitas budidaya. Namun satu hal penting yang sering terlupakan adalah penggunaan induk dan benih unggul yang berkualitas tinggi,” kata Alimuddin dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/10).

Ketika kondisi kondisi budidaya sudah optimal, namun kualitas induk dan benih yang digunakan kurang baik maka capaian produksi tidak akan maksimal. Sebaliknya ketika salah satu komponen penyangga kurang optimal tetapi kualitas induk dan benih yang digunakan unggul maka hal ini akan membantu menyangga kekurangan tersebut. Tersedianya induk dan benih unggul yang memiliki karakter tubuh cepat efisien serta lebih tahan stres dan penyakit akan mendukung peningkatan produksi dan pengembangan akuakultur nasional yang semakin intensif di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. “Induk dan benih unggul dihasilkan melalui kegiatan pemulihan yaitu kegiatan untuk menjaga kemurnian galur sekaligus memperbaiki produksi atau kualitasnya,” ujar Alimuddin. Menurutnya kegiatan pemulihan dapat dilakukan secara konvensional melalui program seleksi atau dengan pendekatan terkini melalui rekayasa genetika berupa seleksi berbasis DNA, transgenesis, dan genome editing. Hingga saat ini sudah ada 26 varietas induk unggul yang dirilis dan mayoritas dihasilkan melalui pemulihan konvensional. Sentuhan teknologi modern melalui seleksi berbasis DNA baru diinisiasi pada 2010. Seleksi berbasis DNA dilakukan dengan memilih ikan yang memiliki DNA unggul sehingga lebih spesifik dan terprediksi dan waktu seleksi menjadi lebih singkat dibandingkan seleksi konvensional. “Namun sampai saat ini dari 26 varietas hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis hanya varietas ikan mas. Protokol seleksi berbasis DNA secara nasional disusun berdasarkan hasil riset kami di IPB yang kemudian diadopsi dengan nama protokol 01 untuk menyeleksi ikan mas tahan virus,” kata Alimuddin. Protokol ini menggunakan GEN MHC sebagai penanda yang didesain khusus agar ikan mas tahan penyakit dapat diidentifikasi hanya dengan proses PCR pada ikan yang sederhana. Seleksi Berbasis DNA

Varietas ikan mas dengan seleksi berbasis DNA protokol GEN MHC terbukti membuat induk unggul yang lebih cepat tumbuh dan lebih tahan terhadap infeksi virus. Alimuddin menambahkan varietas ini sudah didistribusikan dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dengan jumlah total induk yang telah disebar hampir mencapai 200 ribu ekor pada 2020. Jika diasumsikan 50 ribu ekor menjadi induk produktif maka benih yang dihasilkan berkisar 5 miliar ekor per tahun, namun angka ini masih perlu dievaluasi di masa datang. Dia mengungkapkan seleksi DNA pada komunitas lain seperti ikan lele dan gurame sudah dalam tahap pengembangan. Pada ikan lele seleksi dilakukan untuk menghasilkan varietas tahan infeksi bakteri, stres lingkungan, dan tumbuh cepat sedangkan pada ikan gurame hasil seleksi menunjukkan potensi pertumbuhan meningkat dua kali lebih tinggi. Kedua varietas ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas unggul IPB yang baru, namun masih perlu dukungan dari berbagai pihak. Untuk menciptakan produk unggul Alimuddin juga menjelaskan bahwa teknologi transgenik akan banyak digunakan di masyarakat untuk menghasilkan ikan yang unggul dan lebih cepat tumbuh, tahan penyakit, serta memiliki nilai nutrisi tinggi akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya pemeliharaan, dan meningkatkan kualitas panen. “Walaupun pro kontra masih ada, ikan salmon transgenik sudah mendapatkan izin untuk di komersialkan di Amerika dan Kanada. Sementara di Indonesia aturan ini masih dalam proses pematangan,” ujar Alimuddin. Riset juga telah dilakukan oleh IPB University pada fasilitas terbatas dan menghasilkan berbagai komoditas ikan, udang, dan rumput laut transgenik yang lebih tahan terhadap penyakit pertumbuhan tinggi sehingga memiliki kandungan dan DH yang lebih tinggi. (H-1) Perikanan Teknologi Eksplorasi DNA IPB University BERITA TERKAIT www.ruangbiologi.co.id Humaniora Ini Perbedaan Rantai Makanan dan Jaring Makanan Dok Starbucks Humaniora Barista Asal Indonesia Bertanding di World Cup Tasters Championship 2021 MI/Francisco Carolio Hutama Gani Humaniora BMKG Peringatkan Adanya Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah dw.com Humaniora Apa yang Dimaksud dengan Teori Evolusi? Ist Humaniora IPI Usul Pemerintah Tinjau Ulang Syarat Tes PCR Wisatawan Domestik

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/441920/produksi-ikan-melalui-metode-akuakultur-bisa-bermanfaat-untuk-masyarakat