IPB University Dorong Krui Pesisir Barat Jadi Pusat Pengembangan Benih Lobster Legal



IPB University Dorong Krui



Krui

Institut Pertanian Bogor (IPB)

KRUI (Lampungpro.co):Institut Pertanian Bogor (IPB) University mendorong Kabupaten Pesisir Barat menjadi pusat pengembangan benih lobster (baby lobster/BL) yang mengacu pada aturan baru pemerintah yakni Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Perikanan Lobster. Salah satunya di Krui yang merupakan sentra produksi lobster Lampung.

“Krui menjadi pemasok lobster baik ukuran benih, baby lobster atau benih bening ukuran konsumsi dari hasil tangkapan nelayan dan menjadi pemasok utama benih lobster di Lampung,” kata Ketua Tim Program Kedaireka Agromaritim Lobster IPB University, Irzal Effendi, saat membuka focus group discussion (FGD) Program Kedaireka Pengembangan Lobster Aquaculture Estate Berbasis Agromartim 4.0 di Pekon Walur, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Kamis (21/10/2021).

FGD ini dalam rangka kegiatan merdeka belajar Kampus Merdeka dengan menggelar workshop dan temu pelaku perikanan lobster yang terdiri dari nelayan, pengumpul, pengepul, pembudidaya, tokoh masyarakat, dan perangkat pekon. Dari Tim Dosen IPB University tampil Irzal Effendi, Yani Hadiroseyani, Iis Diatin, Luky Adrianto, Zairion, asistem dosen, dan empat mahasiswa Departemen Budidaya Perairan dan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.

Pada kesempatan itu, Irzal berharap kegiatan ini bisa memperbesar peluang penyediaan benih yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu, dan tepat harga (4T) untuk pengembangan budidaya lobster di Lampung. Dia mencontohkan pengembangan budidaya lobster berbasis kawasan bersama (estate) PT Saibatin Perikanan Indonesia di Tanjung Putus, Kabupaten Pesawaran.

“Pengembangan di Tanjung Putus tersebut mencakup pemilihan lokasi, engineering wadah/karamba budidaya, pengelolaan benih, pakan, kualitas air, kesehatan lobster, sampling, pemanenan, dan penanganan pascapanen,” kata Irzal.

Pada workshop yang dibuka Kepala Pekon Wulur Yoyon Yufriza dan Sekretaris Pekon Robert Ardeno itu, pihaknya berharap kegiatan ini bisa berdampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan warga pekon. Menurut Luky, kawasan Krui dan Pesisir Barat memiliki kelimpahan benih lobster yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya. Sehingga, nelayan masih bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan benih tersebut.

“Ada dua pilihan bagi nelayan setelah menangkap BL yaitu menjual ke eksportir dengan harga mahal namun dengan perasaan ketakutan dan kekhawatiran karena dilarang. Atau menjual ke pembudidaya meski dengan harga lebih rendah namun dengan perasaan aman, berkelanjutan, dan turut mendukung program pemerintah mengembangan budidaya lobster sebagai komoditas unggulan Tanah Air,” kata Luky.

Di sisi lain, Yani Hadiroseyani menyampaikan bahwa BL yang 4T tersebut akan memudahkan perencanaan pengembangan industri budidaya lobster di provinsi ini. Sedangkan menurut Iis Diatin, untuk menjamin benih lobster yang 4T tersebut, perlu dibangun kelembagaan usaha yang saling menguntungkan termasuk kesepakatan harga BL pada rantai pasokan.

Di sisi lain, menurut Zairion, rantai pasok BL tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan makhluk ini di perairan laut Pesisir Bara. Menurut Zairion dapat diduga dengan mengkaji lobster berbagai ukuran yang tertangkap nelayan.

Zairion yang juga Anggota Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan (Komnasjikan) itu menyatakan bahwa pengelolaan perikanan lobster yang benar bisa menjamin ketersediaan benih bagi budidaya secara berkelanjutan. Pada FGD itu, umumnya peserta menyatakan Permen Kelautan dan Perikanan No. 17 Tahun 2021 ini menyebabkan berhentinya usaha penangkapan BL dan berdampak cukup signifikan pada perekonomian masyarakat.

Meski penangkapan lobster ukuran konsumsi ukuran di atas 150 atau 200 gram per ekor masih berlangsung, mereka berharap upaya IPB University mengembangkan budidaya lobster dengan menggunakan BL ini bisa menjadi alternatif baru saluran penjualan lobster secara legal. Pengembangan pendederan BL yang ditawarkan ternayata disambut baik oleh peserta FGD, dengan syarat adanya pelatihan, percontohan, dan pendampingan terlebih dahulu oleh IPB University.

Usaha pendederan BL bersama masyarakat ini diharapkan akan menjadi satu kesatuan dengan pengembangan sistem produksi usaha budidaya lobster PT Saibatin Perikanan Indonesia dengan pendekatan kawasan (estate) ini. Kehadiran IPB University di Krui ini dilanjutkan dengan menempatkan empat mahasiswa yakni Virta Rizki Hernanda, Nidwidyanthi, Putri Agil Lestari, dan Haifa Trimelianda Nabila, di bawah koordinasi Muhammad Ridwan, sebagai Asisten Dosen, selama sekitar satu bulan.



Mereka akan melakukan penelitian skripsi yang masing-masing mencakup pemetaan sosial masyarakat perikanan lobster, rantai pasok/nilai lobster, biologi dan reproduksi lobster, dan pendugaan stok lobster di lokasi kajian. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan diperoleh informasi ilmiah yang bisa dijadikan landasan dalan pengelolaan perikanan lobster yang berkelanjutan dan pengembangan benih yang 4T. “Usaha perikanan budidaya yang berbasis benih alam (fisheries-based aquaculture) sangat membutuhkan informasi tersebut,” kata Muhammad Ridwan. (***)

Sumber: https://lampungpro.co/post/36479/ipb-university-dorong-krui-pesisir-barat-jadi-pusat-pengembangan-benih-lobster-legal.


Induk dan Benih Unggul Ikan dapat Dihasilkan Melalui Rekayasa Genetika



Atribut Tag <P>


Prof. Alimuddin

Data KKP menunjukkan komoditas budidaya utama Indonesia adalah rumput laut, nila, lele, udang, bandeng, mas, patin, gurami, kerapu, dan kakap dengan potensi produksi sebesar 15 juta ton dengan valuasi lebih dari Rp180 triliun pada tahun 2018.
Prof Dr Alimuddin, S.Pi, M.Sc dalam orasi ilmiahnya secara online mengatakan, potensi produksi akuakultur ini harus tetap dijaga dan dikelola dengan baik, agar terus bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
“Satu hal penting yang sering terlupakan untuk menopang keberlanjutan kegiatan budidaya adalah kualitas induk dan benih. Ketika kondisi budidaya optimal, namun kualitas benih kurang baik, maka produktivitas pun tidak akan maksimal,” kata Prof Alimuddin Kamis (21/10/2021).
Sebaliknya, ketika salah satu komponen budidaya kurang optimal, penggunaan benih unggul akan membantu menyangga kekurangan tersebut. Maka itu, Profesor IPB University ini menegaskan, penyediaan benih ikan unggul menjadi sangat krusial, khususnya yang memiliki karakter tumbuh cepat, lebih tahan stres dan penyakit, efisien memanfaatkan pakan, hingga kandungan nutrien yang lebih tinggi.
Menurut Prof Alimuddin, induk dan benih unggul dapat dihasilkan melalui kegiatan pemuliaan secara konvensional atau dengan pendekatan terkini melalui rekayasa genetika dan teknologi biologi molekuler.
Seleksi berbasis marka DNA, transgenesis, dan genome editing sangat berpotensi digunakan sebagai metode pemuliaan modern yang lebih cepat dan tepat.
“Kegiatan pemuliaan induk ikan di Indonesia secara serius dimulai pada tahun 2000. Sekurang-kurangnya sudah ada 27 varietas komoditas induk unggul yang dirilis. Mayoritas dihasilkan melalui pemuliaan konvensional. Sentuhan teknologi modern melalui seleksi berbasis marka DNA dan teknologi transgenesis baru diinisiasi pada tahun 2010,” ucapnya.
Menurutnya, seleksi berbasis marka DNA dilakukan dengan memilih ikan berdasarkan kepemilikan DNA unggul, sehingga peluang ditemukannya variasi unggul serta peluang pewarisan sifat akan lebih tinggi dan lebih dapat diprediksi.
Jumlah generasi dan waktu yang dibutuhkan juga akan menjadi jauh berkurang dibandingkan seleksi konvensional.
“Hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis sampai saat ini hanya varietas ikan mas dengan fokus  pada daya tahan terhadap virus dan bakteri. Protokol seleksi berbasis DNA secara nasional disusun berdasarkan hasil riset kami di IPB, yang kemudian diadopsi secara nasional dengan nama Protokol 01. Protokol ini menggunakan alel gen MHC sebagai penanda yang didesain khusus agar ikan mas tahan penyakit dapat diidentifikasi hanya dengan proses PCR yang sederhana,” paparnya.
Tahan Penyakit
Metode ini menurut Prof Alimuddin, dianugerahi ke dalam penghargaan 104 Inovasi Indonesia paling prospektif pada tahun 2012. Aplikasi Protokol 01 menghasilkan ikan mas Majalaya tahan penyakit disingkat ikan mas Mantap  yang dirilis tahun 2015.
Dengan menggunakan protokol yang sama, ikan mas Mustika, Marwana dan Jayasakti  juga dirilis pada tahun 2016. Seluruh varietas ikan mas ini merupakan induk unggul yang lebih cepat tumbuh dan lebih tahan terhadap infeksi virus.
“Varietas ini sudah dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, mulai dari Aceh hingga Papua dengan total induk yang telah disebar hampir mencapai 200 ribu ekor pada tahun 2020,” urai Prof Alimuddin dalam orasinya.
Ia melanjutkan, seleksi marka DNA pada komoditas lainnya masih dalam bentuk prototype.
Pada ikan lele, seleksi marka DNA sedang dilakukan untuk menghasilkan varietas tahan infeksi bakteri, stres, dan tumbuh cepat.
Seleksi ikan gurami tumbuh cepat berbasis marka DNA diinisasi tahun 2020 dan berhasil membedakan empat varian gurami berdasarkan potensi tumbuhnya.
Hasil analisis sementara menunjukkan dengan hanya memilih induk gurami unggul berdasarkan marka DNA, akan menghasilkan populasi ikan dengan bobot tubuh 2 kali lebih tinggi.
Varietas ikan lele tahan penyakit dan ikan gurami tumbuh cepat ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas unggul IPB.

sumber: https://poskota.co/kampus/induk-dan-benih-unggul-ikan-dapat-dihasilkan-melalui-rekayasa-genetika/


Produksi Ikan Melalui Metode Akuakultur Bisa Bermanfaat untuk Masyarakat




Belajar Rata Teks CSS



Produksi Ikan  Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/441920/produksi-ikan-melalui-metode-akuakultur-bisa-bermanfaat-untuk-masyarakat

PRODUKSI ikan melalui kegiatan akuakultur terus mengalami peningkatan yang signifikan. Produksi akuakultur nasional mencapai lebih dari 15 juta ton dengan nilai Rp180 triliun pada 2018 dan menempatkan Indonesia sebagai produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia. Hal itu disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Prof Dr Alimuddin S.Pi. dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Rekayasa Genetika Ikan Dalam Rangka Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya. Alimuddin menjelaskan potensi produksi akuakultur ini harus dikelola dengan baik agar bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Berbagai hal seperti kualitas air, sistem budidaya, hingga pakan berperan dalam menopang produktivitas budidaya. Namun satu hal penting yang sering terlupakan adalah penggunaan induk dan benih unggul yang berkualitas tinggi,” kata Alimuddin dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/10).

Ketika kondisi kondisi budidaya sudah optimal, namun kualitas induk dan benih yang digunakan kurang baik maka capaian produksi tidak akan maksimal. Sebaliknya ketika salah satu komponen penyangga kurang optimal tetapi kualitas induk dan benih yang digunakan unggul maka hal ini akan membantu menyangga kekurangan tersebut. Tersedianya induk dan benih unggul yang memiliki karakter tubuh cepat efisien serta lebih tahan stres dan penyakit akan mendukung peningkatan produksi dan pengembangan akuakultur nasional yang semakin intensif di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. “Induk dan benih unggul dihasilkan melalui kegiatan pemulihan yaitu kegiatan untuk menjaga kemurnian galur sekaligus memperbaiki produksi atau kualitasnya,” ujar Alimuddin. Menurutnya kegiatan pemulihan dapat dilakukan secara konvensional melalui program seleksi atau dengan pendekatan terkini melalui rekayasa genetika berupa seleksi berbasis DNA, transgenesis, dan genome editing. Hingga saat ini sudah ada 26 varietas induk unggul yang dirilis dan mayoritas dihasilkan melalui pemulihan konvensional. Sentuhan teknologi modern melalui seleksi berbasis DNA baru diinisiasi pada 2010. Seleksi berbasis DNA dilakukan dengan memilih ikan yang memiliki DNA unggul sehingga lebih spesifik dan terprediksi dan waktu seleksi menjadi lebih singkat dibandingkan seleksi konvensional. “Namun sampai saat ini dari 26 varietas hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis hanya varietas ikan mas. Protokol seleksi berbasis DNA secara nasional disusun berdasarkan hasil riset kami di IPB yang kemudian diadopsi dengan nama protokol 01 untuk menyeleksi ikan mas tahan virus,” kata Alimuddin. Protokol ini menggunakan GEN MHC sebagai penanda yang didesain khusus agar ikan mas tahan penyakit dapat diidentifikasi hanya dengan proses PCR pada ikan yang sederhana. Seleksi Berbasis DNA

Varietas ikan mas dengan seleksi berbasis DNA protokol GEN MHC terbukti membuat induk unggul yang lebih cepat tumbuh dan lebih tahan terhadap infeksi virus. Alimuddin menambahkan varietas ini sudah didistribusikan dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dengan jumlah total induk yang telah disebar hampir mencapai 200 ribu ekor pada 2020. Jika diasumsikan 50 ribu ekor menjadi induk produktif maka benih yang dihasilkan berkisar 5 miliar ekor per tahun, namun angka ini masih perlu dievaluasi di masa datang. Dia mengungkapkan seleksi DNA pada komunitas lain seperti ikan lele dan gurame sudah dalam tahap pengembangan. Pada ikan lele seleksi dilakukan untuk menghasilkan varietas tahan infeksi bakteri, stres lingkungan, dan tumbuh cepat sedangkan pada ikan gurame hasil seleksi menunjukkan potensi pertumbuhan meningkat dua kali lebih tinggi. Kedua varietas ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas unggul IPB yang baru, namun masih perlu dukungan dari berbagai pihak. Untuk menciptakan produk unggul Alimuddin juga menjelaskan bahwa teknologi transgenik akan banyak digunakan di masyarakat untuk menghasilkan ikan yang unggul dan lebih cepat tumbuh, tahan penyakit, serta memiliki nilai nutrisi tinggi akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya pemeliharaan, dan meningkatkan kualitas panen. “Walaupun pro kontra masih ada, ikan salmon transgenik sudah mendapatkan izin untuk di komersialkan di Amerika dan Kanada. Sementara di Indonesia aturan ini masih dalam proses pematangan,” ujar Alimuddin. Riset juga telah dilakukan oleh IPB University pada fasilitas terbatas dan menghasilkan berbagai komoditas ikan, udang, dan rumput laut transgenik yang lebih tahan terhadap penyakit pertumbuhan tinggi sehingga memiliki kandungan dan DH yang lebih tinggi. (H-1) Perikanan Teknologi Eksplorasi DNA IPB University BERITA TERKAIT www.ruangbiologi.co.id Humaniora Ini Perbedaan Rantai Makanan dan Jaring Makanan Dok Starbucks Humaniora Barista Asal Indonesia Bertanding di World Cup Tasters Championship 2021 MI/Francisco Carolio Hutama Gani Humaniora BMKG Peringatkan Adanya Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah dw.com Humaniora Apa yang Dimaksud dengan Teori Evolusi? Ist Humaniora IPI Usul Pemerintah Tinjau Ulang Syarat Tes PCR Wisatawan Domestik

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/441920/produksi-ikan-melalui-metode-akuakultur-bisa-bermanfaat-untuk-masyarakat


PROGRAM DOSEN MENGABDI


Dr. Munti Yuhana, Staf Dosen pada Departemen BDP sebagai Narasumber kegiatan Program Dosen Mengabdi Tahun 2020 berlokasi di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari Bogor. Materi yang disampaikan tentang Meningkatkan Ketahanan Pangan Masyarakat di masa Pandemi dengan Budidaya Ikan di Lahan Terbatas. Penyelenggara Kegiatan adalah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB, sasaran kegiatan tersebut adalah masayarakat desa tersebut dan pembudidaya ikan air tawar, kegiatan diikuti oleh 20 Peserta mengingat dilaksanakan pada masa pandemi covid-19

Diskusi Kelompok Terarah Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM)

28 Mei 2021


Dr. Munti Yuhana berpartisipasi sebagai Narasumber pada acara Diskusi Kelompok Terarah Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) dengan tema “Pendekatan Best Practices Aquaculture dalam Implementasi Kurikulum MBKM yang diselenggarakan secara daring oleh Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas
Syiah Kuala, Banda Aceh dihadiri oleh 60 peserta. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ketua Jurusan BDP, Kaprodi S1, Dosen dan Para Undangan lainnya.