Induk dan Benih Unggul Ikan dapat Dihasilkan Melalui Rekayasa Genetika



Atribut Tag <P>


Prof. Alimuddin

Data KKP menunjukkan komoditas budidaya utama Indonesia adalah rumput laut, nila, lele, udang, bandeng, mas, patin, gurami, kerapu, dan kakap dengan potensi produksi sebesar 15 juta ton dengan valuasi lebih dari Rp180 triliun pada tahun 2018.
Prof Dr Alimuddin, S.Pi, M.Sc dalam orasi ilmiahnya secara online mengatakan, potensi produksi akuakultur ini harus tetap dijaga dan dikelola dengan baik, agar terus bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
“Satu hal penting yang sering terlupakan untuk menopang keberlanjutan kegiatan budidaya adalah kualitas induk dan benih. Ketika kondisi budidaya optimal, namun kualitas benih kurang baik, maka produktivitas pun tidak akan maksimal,” kata Prof Alimuddin Kamis (21/10/2021).
Sebaliknya, ketika salah satu komponen budidaya kurang optimal, penggunaan benih unggul akan membantu menyangga kekurangan tersebut. Maka itu, Profesor IPB University ini menegaskan, penyediaan benih ikan unggul menjadi sangat krusial, khususnya yang memiliki karakter tumbuh cepat, lebih tahan stres dan penyakit, efisien memanfaatkan pakan, hingga kandungan nutrien yang lebih tinggi.
Menurut Prof Alimuddin, induk dan benih unggul dapat dihasilkan melalui kegiatan pemuliaan secara konvensional atau dengan pendekatan terkini melalui rekayasa genetika dan teknologi biologi molekuler.
Seleksi berbasis marka DNA, transgenesis, dan genome editing sangat berpotensi digunakan sebagai metode pemuliaan modern yang lebih cepat dan tepat.
“Kegiatan pemuliaan induk ikan di Indonesia secara serius dimulai pada tahun 2000. Sekurang-kurangnya sudah ada 27 varietas komoditas induk unggul yang dirilis. Mayoritas dihasilkan melalui pemuliaan konvensional. Sentuhan teknologi modern melalui seleksi berbasis marka DNA dan teknologi transgenesis baru diinisiasi pada tahun 2010,” ucapnya.
Menurutnya, seleksi berbasis marka DNA dilakukan dengan memilih ikan berdasarkan kepemilikan DNA unggul, sehingga peluang ditemukannya variasi unggul serta peluang pewarisan sifat akan lebih tinggi dan lebih dapat diprediksi.
Jumlah generasi dan waktu yang dibutuhkan juga akan menjadi jauh berkurang dibandingkan seleksi konvensional.
“Hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis sampai saat ini hanya varietas ikan mas dengan fokus  pada daya tahan terhadap virus dan bakteri. Protokol seleksi berbasis DNA secara nasional disusun berdasarkan hasil riset kami di IPB, yang kemudian diadopsi secara nasional dengan nama Protokol 01. Protokol ini menggunakan alel gen MHC sebagai penanda yang didesain khusus agar ikan mas tahan penyakit dapat diidentifikasi hanya dengan proses PCR yang sederhana,” paparnya.
Tahan Penyakit
Metode ini menurut Prof Alimuddin, dianugerahi ke dalam penghargaan 104 Inovasi Indonesia paling prospektif pada tahun 2012. Aplikasi Protokol 01 menghasilkan ikan mas Majalaya tahan penyakit disingkat ikan mas Mantap  yang dirilis tahun 2015.
Dengan menggunakan protokol yang sama, ikan mas Mustika, Marwana dan Jayasakti  juga dirilis pada tahun 2016. Seluruh varietas ikan mas ini merupakan induk unggul yang lebih cepat tumbuh dan lebih tahan terhadap infeksi virus.
“Varietas ini sudah dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, mulai dari Aceh hingga Papua dengan total induk yang telah disebar hampir mencapai 200 ribu ekor pada tahun 2020,” urai Prof Alimuddin dalam orasinya.
Ia melanjutkan, seleksi marka DNA pada komoditas lainnya masih dalam bentuk prototype.
Pada ikan lele, seleksi marka DNA sedang dilakukan untuk menghasilkan varietas tahan infeksi bakteri, stres, dan tumbuh cepat.
Seleksi ikan gurami tumbuh cepat berbasis marka DNA diinisasi tahun 2020 dan berhasil membedakan empat varian gurami berdasarkan potensi tumbuhnya.
Hasil analisis sementara menunjukkan dengan hanya memilih induk gurami unggul berdasarkan marka DNA, akan menghasilkan populasi ikan dengan bobot tubuh 2 kali lebih tinggi.
Varietas ikan lele tahan penyakit dan ikan gurami tumbuh cepat ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas unggul IPB.

sumber: https://poskota.co/kampus/induk-dan-benih-unggul-ikan-dapat-dihasilkan-melalui-rekayasa-genetika/


Pakar IPB University Manfaatkan Rekayasa Genetika untuk Tingkatkan Produksi Perikanan Budidaya

Prof. Alimuddin


Atribut Tag <P>

Profesor Alimuddin, dosen IPB University dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, berusaha memanfaatkan rekayasa genetika untuk meningkatkan produksi budidaya perikanan. Sampai saat ini, ia telah berhasil memanfaatkan rekayasa genetika untuk beberapa ikan budidaya. Ikan tersebut antara lain ikan mas, lele, gurami, dan cupang serta udang.
“Seleksi berbasis marka DNA, transgenesis, dan genome editing sangat berpotensi digunakan sebagai metode pemuliaan modern yang lebih cepat dan tepat,” kata Prof Alimuddin.
Lebih lanjut, dosen IPB University itu menjelaskan, seleksi berbasis marka DNA dilakukan dengan memilih ikan berdasarkan kepemilikan DNA unggul. Dengan demikian, peluang ditemukannya variasi unggul serta peluang pewarisan sifat akan lebih tinggi dan lebih dapat diprediksi. Tidak hanya itu, pada metode ini, jumlah generasi dan waktu yang dibutuhkan juga akan menjadi jauh berkurang dibandingkan seleksi konvensional.
Prof Alimuddin mengaku, hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis sampai saat ini baru varietas ikan mas dengan fokus  pada daya tahan terhadap virus dan bakteri. Ikan mas tersebut adalah ikan mas Majalaya Tahan Penyakit (ikan mas MANTAP) yang dirilis tahun 2015. Tidak hanya itu, ikan mas lainnya adalah ikan mas MUSTIKA, MARWANA dan JAYASAKTI yang dirilis pada tahun 2016.


Sumber: https://bogor-kita.com/pakar-ipb-university-manfaatkan-rekayasa-genetika-untuk-tingkatkan-produksi-perikanan-budidaya/

Produksi Ikan Melalui Metode Akuakultur Bisa Bermanfaat untuk Masyarakat




Belajar Rata Teks CSS



Produksi Ikan  Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/441920/produksi-ikan-melalui-metode-akuakultur-bisa-bermanfaat-untuk-masyarakat

PRODUKSI ikan melalui kegiatan akuakultur terus mengalami peningkatan yang signifikan. Produksi akuakultur nasional mencapai lebih dari 15 juta ton dengan nilai Rp180 triliun pada 2018 dan menempatkan Indonesia sebagai produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia. Hal itu disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Prof Dr Alimuddin S.Pi. dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Rekayasa Genetika Ikan Dalam Rangka Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya. Alimuddin menjelaskan potensi produksi akuakultur ini harus dikelola dengan baik agar bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Berbagai hal seperti kualitas air, sistem budidaya, hingga pakan berperan dalam menopang produktivitas budidaya. Namun satu hal penting yang sering terlupakan adalah penggunaan induk dan benih unggul yang berkualitas tinggi,” kata Alimuddin dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/10).

Ketika kondisi kondisi budidaya sudah optimal, namun kualitas induk dan benih yang digunakan kurang baik maka capaian produksi tidak akan maksimal. Sebaliknya ketika salah satu komponen penyangga kurang optimal tetapi kualitas induk dan benih yang digunakan unggul maka hal ini akan membantu menyangga kekurangan tersebut. Tersedianya induk dan benih unggul yang memiliki karakter tubuh cepat efisien serta lebih tahan stres dan penyakit akan mendukung peningkatan produksi dan pengembangan akuakultur nasional yang semakin intensif di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. “Induk dan benih unggul dihasilkan melalui kegiatan pemulihan yaitu kegiatan untuk menjaga kemurnian galur sekaligus memperbaiki produksi atau kualitasnya,” ujar Alimuddin. Menurutnya kegiatan pemulihan dapat dilakukan secara konvensional melalui program seleksi atau dengan pendekatan terkini melalui rekayasa genetika berupa seleksi berbasis DNA, transgenesis, dan genome editing. Hingga saat ini sudah ada 26 varietas induk unggul yang dirilis dan mayoritas dihasilkan melalui pemulihan konvensional. Sentuhan teknologi modern melalui seleksi berbasis DNA baru diinisiasi pada 2010. Seleksi berbasis DNA dilakukan dengan memilih ikan yang memiliki DNA unggul sehingga lebih spesifik dan terprediksi dan waktu seleksi menjadi lebih singkat dibandingkan seleksi konvensional. “Namun sampai saat ini dari 26 varietas hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis hanya varietas ikan mas. Protokol seleksi berbasis DNA secara nasional disusun berdasarkan hasil riset kami di IPB yang kemudian diadopsi dengan nama protokol 01 untuk menyeleksi ikan mas tahan virus,” kata Alimuddin. Protokol ini menggunakan GEN MHC sebagai penanda yang didesain khusus agar ikan mas tahan penyakit dapat diidentifikasi hanya dengan proses PCR pada ikan yang sederhana. Seleksi Berbasis DNA

Varietas ikan mas dengan seleksi berbasis DNA protokol GEN MHC terbukti membuat induk unggul yang lebih cepat tumbuh dan lebih tahan terhadap infeksi virus. Alimuddin menambahkan varietas ini sudah didistribusikan dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dengan jumlah total induk yang telah disebar hampir mencapai 200 ribu ekor pada 2020. Jika diasumsikan 50 ribu ekor menjadi induk produktif maka benih yang dihasilkan berkisar 5 miliar ekor per tahun, namun angka ini masih perlu dievaluasi di masa datang. Dia mengungkapkan seleksi DNA pada komunitas lain seperti ikan lele dan gurame sudah dalam tahap pengembangan. Pada ikan lele seleksi dilakukan untuk menghasilkan varietas tahan infeksi bakteri, stres lingkungan, dan tumbuh cepat sedangkan pada ikan gurame hasil seleksi menunjukkan potensi pertumbuhan meningkat dua kali lebih tinggi. Kedua varietas ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas unggul IPB yang baru, namun masih perlu dukungan dari berbagai pihak. Untuk menciptakan produk unggul Alimuddin juga menjelaskan bahwa teknologi transgenik akan banyak digunakan di masyarakat untuk menghasilkan ikan yang unggul dan lebih cepat tumbuh, tahan penyakit, serta memiliki nilai nutrisi tinggi akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya pemeliharaan, dan meningkatkan kualitas panen. “Walaupun pro kontra masih ada, ikan salmon transgenik sudah mendapatkan izin untuk di komersialkan di Amerika dan Kanada. Sementara di Indonesia aturan ini masih dalam proses pematangan,” ujar Alimuddin. Riset juga telah dilakukan oleh IPB University pada fasilitas terbatas dan menghasilkan berbagai komoditas ikan, udang, dan rumput laut transgenik yang lebih tahan terhadap penyakit pertumbuhan tinggi sehingga memiliki kandungan dan DH yang lebih tinggi. (H-1) Perikanan Teknologi Eksplorasi DNA IPB University BERITA TERKAIT www.ruangbiologi.co.id Humaniora Ini Perbedaan Rantai Makanan dan Jaring Makanan Dok Starbucks Humaniora Barista Asal Indonesia Bertanding di World Cup Tasters Championship 2021 MI/Francisco Carolio Hutama Gani Humaniora BMKG Peringatkan Adanya Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah dw.com Humaniora Apa yang Dimaksud dengan Teori Evolusi? Ist Humaniora IPI Usul Pemerintah Tinjau Ulang Syarat Tes PCR Wisatawan Domestik

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/441920/produksi-ikan-melalui-metode-akuakultur-bisa-bermanfaat-untuk-masyarakat


Diskusi Kelompok Terarah Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM)

28 Mei 2021


Dr. Munti Yuhana berpartisipasi sebagai Narasumber pada acara Diskusi Kelompok Terarah Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) dengan tema “Pendekatan Best Practices Aquaculture dalam Implementasi Kurikulum MBKM yang diselenggarakan secara daring oleh Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas
Syiah Kuala, Banda Aceh dihadiri oleh 60 peserta. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ketua Jurusan BDP, Kaprodi S1, Dosen dan Para Undangan lainnya.

UMT – IPB Joint International Webinar

23 – 24 November 2020



Dr. Ichsan Achmad Fauzi berpartisipasi sebagai Keynote Speaker pada acara UMT-IPB Joint International Webinar. Seminar ini merupakan program pertukaran pengajar antara Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University dan Fakulti Perikanan dan Sains Makanan, Universiti Malaysia Trengganu. Pada kesempatan ini, Dr. Ichsan berbicara mengenai pengembangan sustainable aquaculture dan peranan pakan yang berkelanjutan dalam akuakultur